Selasa, 08 September 2009

Banyak Pencinta Buku Terpenjara

Tarlen Handayani


KESAN kaku, pendiam, tidak komunikatif, teoritis, dan perilaku minus lain seorang pecinta (baca: kutu) buku, seperti banyak digambarkan lewat buku cerita anak, hilang sudah ketika bertemu Tarlen Handayani. Perempuan ini ternyata begitu menyenangkan. Jauh dari kesan serius seperti yang dibayangkan.

DI kalangan penggemar literasi di Kota Bandung, nama Tarlen indentik sekali dengan Toko Buku Cilik atau Tobucil yang dirintisnya sejak 1999 lalu. Saat ruang publik ini benar benar terwujud, Mei 2004 silam, lokasinya masih di sekitar kawasan Dago. Baru beberapa waktu ini Tobucil Tarlen ini menempati rumahnya yang baru di kawasan Jalan Aceh No 56.

Tarlen mengaku, bukan mudah baginya untuk bisa mewujudkan apa yang telah diraihnya saat ini. Untuk bisa mewujudkannya ada banyak sekali liku yang harus dijalani oleh wanita yang sempat memiliki perpustakaan keliling saat masih menginjak kelas 3 SD ini. Salah satunya sempat mengalami adanya perbedaan visi dengan partnernya di Tobucil yang mengharuskan Tarlen menjalankan impianya (Tobucil) sendiri bahkan sampai berpindah tempat.

Namun, semangatnya tak lantas pupus dengan berbagai macam kejadian ini. Baginya semua itu adalah sebuah proses yang bisa dijadikan pelajaran berharga. Berbekal berbagai pengalamanya berorganisasi, prestasi dan sempat mendapatkan program beasiswa di beberapa Negara inilah wanita yang masih saja melajang ini kembali meretas impiannya hingga Tobucil menjadi berhasil tumbuh seperti sekarang.

Ada bermacam kegiatan dirancang Tarlen melalui Tobucil ini. Mulai dari klab menulis, merajut, filsafat bahkan sampai klab yang membahas tentang film pun dibuatnya.
Ditemui di tengah kesibukkannya menggelar acara Crafty Day #3, 14-16 Agustus 2009, dara kelahiran Bandung 30 Maret 1977 ini mengaku tak bisa lepas dari buku bahkan sejak kecil. Ia bukan sebatas penikmat buku, namun ikut menyewakannya sejak SD hingga SMA. Tarlen begitu antusias bercerita tentang beragam aktivitasnya, gagasan, obsesi, hobi, kesenangan, pengalaman batin yang membuatnya bisa memiliki banyak sudut pandang tentang kehidupan, serta pemahamannya tentang kemerdekaan.

"Mustahil ada kemerdekaan absolut bagi seseorang, sepanjang dia masih terkait dengan hukum alam. Sekeras apapun kita melakukan aktivitas, siang- malam sampai berhari-hari. Satu saat pasti tubuh bereaksi meminta istirahat. Saya percaya tiap hari kita harus menemukan keseimbangan baru," ungkap Tarlen.
Anak ketiga dari empat bersaudara pasangan (alm) JB Sudharno dan Ifnaini Widarti ini, mengingatkan ketidakseimbangan bahkan bisa membuat para pecinta buku menjadi sangat teoritis dan terpenjara di alam pikirannya sendiri.

"Banyak orang memaksa diri membaca banyak buku. Tapi akhirnya jadi pusing sendiri, karena mereka tidak mau menerapkan ilmu yang mereka dapat dari buku dalam kehidupan sehari-hari. Padahal sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan. Sekarang saya baca buku kalau perlu aja," ujar Tarlen sambil tersenyum.

Berdasar pengalaman itu, Tarlen yang kini bekerja sebagai peneliti bidang sosial, penulis lepas, dan penggemar fotografi ini punya banyak cara buat meraih keseimbangan hidup. Salah satunya merajut atau membuat aneka kriya lainnya.

"Mengerjakan sesuatu dengan tangan sendiri walaupun itu kecil membuat diri kita terasa penuh. Apalagi kalau kita membuatnya untuk orang lain," ujar Tarlen sembari mengurai gulungan benang sintetis cokelat yang kusut di meja kerjanya.

Menonton film yang mengeksplorasi sudut pandang lain tentang kehidupan dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat, merupakan dua kegiatan favorit Tarlen yang lain.

"Saya paling nggak suka film action dan horror. Saya lebih senang nonton film yang bisa membuat saya terganggu. Film yang bikin saya bertanya-tanya, kok ada ya, gambaran kehidupan yang seperti itu?" ujarnya.

Sekurangnya setahun sekali Tarlen berjalan ke berbagai pelosok tanah air untuk melakukan penelitian sosial. Biasanya perjalanan dilakukan bersama teman-teman. Tapi tidak jarang bepergian sendiri seperti waktu mendalami studi tentang komunitas di Amerika Serikat selama empat bulan.

"Saya kepingin pergi keliling dunia. Masih banyak tempat-tempat bagus yang perlu didatangi. Ya, supaya nggak kurung batok-lah. Buat saya setiap perjalanan selalu memberi energi baru sekaligus mengingatkan supaya kita selalu rendah hati. Semakin banyak melakukan perjalanan semakin sadar bahwa kita tidak tahu apa-apa," kata Tarlen lugas. (ricky reynald yulman)

Kagumi Orang-orang Konsisten
TARLEN
mengaku tak banyak mengagumi orang-orang yang sering ditokohkan. Wanita berkacamata ini justru mengagumi mereka yang konsisten bergelut di suatu bidang pekerjaan sederhana yang benar-benar disenangi.

Orang-orang seperti itu biasanya selalu memiliki energi besar, selalu gembira, dan tidak gampang mengeluh. Merekapun tidak selalu mendasarkan apa-apa yang dilakukan semata untuk mengejar keuntungan materil.

Tarlen mengaku kagum kepada keluarga pemilik Koffie Fabriek Aroma Bandung yang tetap konsisten selama puluhan tahun menyajikan kopi berkualitas. Iapun mengagumi sosok ibunya yang selalu ingin terus belajar meski tak lagi berusia muda.

"Begitu juga dengan teman-teman yang punya jiwa seni tinggi. Mereka selalu punya gagasan kreatif, dan menjalani hidup sederhana meski sudah jadi orang terkenal," ungkap Tarlen.
Tarlen yakin, perubahan besar yang mendadak, seperti pada proses revolusi, pasti memakan biaya mahal. "Sementara proses evolusi memang butuh waktu lama. Tapi perubahan yang dilakukan orang-orang itu akan lebih abadi," tandasnya. (ricky reynald yulman)

Musik Sore Tobucil#3 Panggung Mini, Apresiasi Maksimal

KlabKLASSIK dan Tobucil kembali menggelar acara Musik Sore Tobucil (MST) untuk ketiga kalinya di Tobucil, Minggu (28/6) lalu. Sore itu, halaman depan toko buku yang berlokasi di bilangan Jalan Aceh, Bandung, tersebut diriuhi orang yang ingin menonton sajian musik gratisan dari Deu Galih, Tesla Manaf Effendi Jazz Duo, KlabKlassik String Trio featuring Yeyen dan Dian, dan D’Java String Quartet.

Venue-nya sendiri terbilang sederhana. Tak ada panggung dengan tata lampu khusus atau ornamen dekoratif. Penampil disediakan kursi untuk duduk dan bermain format akustik, tepat di hadapan penonton yang duduk berjejer di bangku kayu panjang.

Penampil pertama yang mencairkan suasana ialah Deu Galih yang membawakan lagu-lagu barunya beraroma folk. Kebetulan belum lama ini, vokalis dan gitaris itu baru saja merilis album indie, berisi 32 lagu yang merupakan gabungan 4 album yang dapat diunduh secara bebas oleh siapa saja.

Setelah Deu Galih, giliran Tesla Manaf Effendi Jazz Duo yang mengetengahkan nuansa jazz. Komposisi jazz seperti "Oleo" dihadirkan lewat skill petikan gitarnya Tesla yang mengundang kekaguman penonton.

Spesial dari luar kota, yakni Jakarta, berikutnya ada Yeyen dan Dian. Diiringi oleh KlabKlassik String, duet gadis manis tersebut mengalunkan suara merdu mereka yang membuai telinga penonton. Tak hanya nuansa pop, melalui lagu Cinta-nya Vina Panduwinata, mereka juga menyanyikan lagu asal tatar Sunda "Manuk Dadali" yang bikin sore hari itu jadi teduh.

Meskipun penyelenggara acaranya ialah KlabKlassik, namun bukan berarti pengisi acara yang tampil dalam MST melulu harus bermain musik klasik. Hal itu justru disengaja, dalam rangka upaya KlabKlassik untuk mengembangkan para apresiator yang tidak terbatas pada dikotomi musik tertentu saja.

"Acara ini tidak hanya untuk pemain dan penonton musik klasik saja, tetapi juga semua musik, untuk menciptakan apresiator yang baik," kata Syarif Maulana dari KlabKlassik.

Selanjutnya, giliran D’Java String Quartet yang ditunggu-tunggu. Mereka ini ialah para mahasiswa ISI Yogyakarta yang beberapa waktu lalu sempat menggelar konsernya di Bandung. Meski membawakan karya musik klasik dari Mozart, misalnya, yang tergolong rumit, kuartet gesek ini sukses menghadirkan suasana megah yang mengasyikkan dan akrab.

D’Java String Quartet akhirnya menutup sajian MST dengan manis. Penonton senang, penampil pun senang. "Main di sini seperti bukan main musik, tetapi ngobrol-ngobrol aja," kata Rama, personel D’Java String Quartet, kepada Kampus. Ya, meski panggungnya mini, tetapi apresiasi bisa maksimal. (dewi irma)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Juli 2009



Memaknai Hidup Bersama Kopi di Madrasah Filsafat

Ema Nur Arifah - detikBandung
Jumat, 30/05/2008 11:55 WIB

Bandung - Apa makna kopi untukmu hari ini? Pertanyaan itu muncul dalam acara obrolan santai Rabu sore di Tobucil & Klabs, Jl Aceh No.56.

Sekitar 20 orang dari beragam latar belakang profesi entah itu pelajar, pekerja, mereka berkumpul, duduk bersama membicarakan tentang jenis minuman bernama kopi.

Pertanyaan sederhana tentang makna kopi pun memunculkan serentetan kisah. Ragam cerita tentang minuman yang penuh sensasi ini keluar dari setiap mulut yang hadir sore itu.

Setiap orang menceritakan pengetahuan dan pemahamannya tentang kopi. Ada yang mengutarakan dari segi sejarah, kemanfaataannya,perkembangan trend ngopi, jenis-jenis kopi sampai hal-hal yang lebih ringan tentang kenapa kopi itu disebut kopi? Apa sih sebenarnya warna kopi?

Hal ringan yang akan memunculkan beragam jawaban yang berbeda-beda pula.Tak jarang celetukan-celetukan cerdas pun muncul. Tak hanya membuat berpikir tetapi juga membawa keceriaan dalam tawa.

Kopi, satu dari sekian banyak topik yang disajikan dalam Madrasah Filsafat setiap Rabu sore di Tobucil dan Klabs.

Masalah keseharian yang terkesan ringan menjadi topik unik yang senantiasa menarik untuk dikupas, didiskusikan, bertukar pikiran hingga akhirnya menghasilkan sebuah konklusi bersama.

Dituturkan Fasilitator Madrasah Filsafat Fahmi, target Madrasah Filsafat sendiri adalah mengajak peserta untuk kritis? Mempertanyakan masalah-masalah keseharian karena pada dasarnya setiap orang adalah filsuf.

"Dengan bertanya maka akan menghasilkan pembaharuan-pembaharuan sehingga nantinya akan lebih menghargai hidup,"jelas lulusan jurusan filsafat UIN dan UI ini.

Iqbal, mahasiswa semester 9 jurusan komunikasi Unisba mengatakan dengan mengikuti Madrasah Filsafat ini pikirannya menjadi lebih terbuka.

"Saya dapat mengetahui pendapat orang lain yang memiliki latar belakang berbeda," ujar Iqbal yang sejak enam bulan yang lalu getol mengikuti setiap diskusinya.

Dengan begitu,lanjut Iqbal, dirinya dapat memandang sesuatu hal dari berbagai sudut pandang tidak hanya menurut dirinya sendiri.

Hal yang sama juga dituturkan mahasiswa lainnya yang turut hadir. Meski baru pertama kali, mereka mengaku diskusi filsafat di Madrasah Filsafat lebih baik daripada di bangku kuliah. Menurut mereka, mereka datang karena disarankan oleh dosen mereka di Unisba.

Tertarik untuk datang? Karena dari setiap kita adalah filsuf, begitu pun anda.Klab Filsafat terbuka untuk siapapun yang siap mempertanyakan, siap mencari makna.

Hingga akhirnya mungkin akan memberikan filosofi baru tentang sesuatu. Misalnya di akhir topik tentang kopi sore itu,seorang yang hadir menyatakan bahwa kopi adalah pasangan hidup. Bagaimana dengan anda?
(ema/ema)
Related Posts with Thumbnails